Agar Anak Tetap Bersemangat Dan Ceria Di Rumah

KakZepe.Com – Keceriaan seorang anak adalah hal yang membahagiakan bagi orang tua. Bisa melihat anak melompat, berlari, bermain dengan raut muka berseri-seri mampu mendamaikan hati setiap orang tua yang melihatnya. Saya, Kak Zepe, akan memberikan beberapa tips menarik untuk mempertahankan keceriaan di wajah buah hati anda:

1. Menghargai setiap perkembangan anak

Beberapa anak memiliki kemampuan untuk belajar cepat. Namun ada pula anak yang memiliki kemapuan belajar lambat. Namun sebagai orang tua, anda harus menghargai setiap perkembangan yang terjadi pada anak. Tetaplah tekum dalam memotivasi agar anak tidak mudah menyerah. Misalnya, buah hati anda sudah bisa makan sendiri. Meskipun nasi yang ia makan masih tersebar kemana-mana, tetaplah memuji dan memotivasinya dengan kata-kata positif. Continued

Ciri Anak Ber-EQ Tinggi, Dan Cara Mendidiknya

KakZepe.com – Apa itu EQ (Emotional Quotient) yang biasa dikenal dengan sebutan kecerdasan emosi? Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Kecerdasan ini bisa sebenarnya bisa dilatih sejak dini. Melalui artikel ini, Kak Zepe akan memberikan beberapa tips agar anda bisa melatih kecerdasan emosi buah hati.

1. Empati

Empati adalah kemampuan anak dalam merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kemampuan ini bisa dilatih dengan mengajak anak ke lembaga-lembaga sosial, misalnya panti asuhan, yayasan pembinaan anak cacat dan lainnya. Orang tua yang selalu menunjukkan kepedulian kepada anaknya, juga akan membangun sifat ini untuk bisa tumbuh di hati anaknya. Misalnya, dengan menanyakan kabar anaknya saat wajahnya terlihat sedih. Dengan menanyakan kabar sang anak, sang anak akan merasa bahwa dirinya diperhatikan. Hal ini akan menjadi teladan yang baik bagi anak, agar ia mampu menjadi anak yang baik dan peduli pada sesamanya. Continued

Sifat-sifat Yang Perlu Ditumbuhkan Pada “Anak Zaman Now”

KakZepe.Com – Memiliki anak-anak didik yang cerdas dan berakhlak mulia menjadi idaman para pendidik. Apalagi bila karakter ini terbentuk berkat campur tangan kita, sebagai pendidik, tentu menjadi kebanggan tersendiri. Mengajarkan pendidikan karakter tentu berbeda dengan mengajarkan pengenalan hewan, pengenalan warna, dan materi kognitif lainnya. Pendidikan karakter bisa kita ajarkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Sifat tulus dan penuh kasih sayang

Sifat ini bisa kita ajarkan melalui tutur kata kita. Pemilihan kata-kata yang baik dalam menasihati anak dan sikap ramah kita selama menjaga anak-anak didik di
sekolah akan membentuk karakter anak menjadi pribadi yang tulus dan penuh kasih sayang. Hindari emosi yang meledak-ledak. Kecerdasan seorang pendidik dalam mengelola emosi akan tampak dalam perliku dan perkataannya, dan anak-anak didik bisa merasakan oleh karena kepekaan mereka yang masih sangat tinggi.

2. Sifat terbuka dan jujur

Sifat ini bisa kita ajarkan disaat kita hadir sebagai pendengar yang baik bagi anak-anak. Saat anak-anak mengeluh dan mengalami suatu permasalahan, entah itu penting atau tidak penting menurut kita, kita wajib mendengarkannya dengan seksama. Kita tidak boleh menghentikan pembicaraan mereka apalagi dengan kata-kata yang kurang sopan dan nada bicara yang bisa menyakiti hati mereka. Dengan tekun mendengarkan setiap keluhan anak-anak didik, mereka akan merasa dekat dan percaya pada kita, dan secara tidak langsung kita juga telah mengajarkan mereka untuk memiliki sifat yang jujur dan terbuka. Continued

Kebiasaan Orang Tua Yang Bisa Membentuk Sifat Keras Anak

KakZepe.Com – Di surat kabar dan berbagai media sosial, saya sering melihat berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak. Beberapa diantara mereka menderita secara jasmani dan rohani oleh karena tindakan kekerasan yang dilakukan oleh teman-teman mereka sendiri. Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak tentu saja ada sebabnya. Bagaimana pun anak-anak adalah pribadi yang suka meniru. Jadi bila mereka melakukan sesuatu kebiasaan baik atau buruk, itu adalah hasil dari apa yang mereka lihat dan amati sendiri. Orang tua perlu sadar akan hal ini, maka ada beberapa sikap yang perlu dihindari agar anak bisa terhindar dari kebiasaan yang tidak terpuji dengan melakukan kekerasan kepada temannya.

1. Hindari Bertengkar di depan Anak

Bila ada suatu permasalahan, sebaiknya orang tua menyelesaikan dengan cara yang baik. Bila memang harus terjadi adu pendapat, usahakan tidak melakukannya di depan anak-anak. Karena bila salah satu pihak tersulut emosinya, akan memungkinkan terjadi pertengkaran. Di kasus yang lain, ketika orangtua bertengkar atau sedang marah terhadap orang lain jangan sampai melakukannya di depan anak. Begitu juga orang lain selain orangtua jangan sampai melakukan tindakan yang tidak patut di depan anak-anak. Karena akan terekam sampai anak dewasa. Di saat dewasa nanti, anak akan membuka memori lama tersebut. Jika memori buruk tentunya sangat tak baik bagi perkembangan psikologisnya. Continued

Imajinasi Anak Perlu Diarahkan, Tak Perlu Dirisaukan

KakZepe.Com – Setiap anak pasti akan mengalami masa-masa dimana mereka suka berimajinasi. Dengan memainkan sesuatu, anak bisa bercakap-cakap sendiri. Mereka begitu asyik dengan dunia mereka. Bila melihat hal yang seperti itu, apa yang harus kita lakukan?

1. Hindari melarang dan menghentikan imajinasi anak

Jangan matikan imajinasi anak dengan melarang mereka bermain atau memarahinya bila sudah mulai ngobrol sendiri, namun arahkanlah imajinasi mereka supaya anak tidak kehilangan kemampuan berkreasi mereka. Bagimana caranya?

2. Menjadi pendengar yang baik dan aktif

Maksud dari pendengar yang baik di sini adalah dengan memberikan tanggapan yang positif kepada sang anak. Mungkin satu saat anak didik kita akan mengajak kita masuk ke dunia mereka, misalnya dengan bertanya,”Pak Guru… Pesawatnya keren… Pilotnya jago lho…. Bisa nyetir pesawat sampai tinggi… sekali.” Jangan menanggapinya dengan nada negatif misalnya dengan berkata,”Ah masa…. Nggak percaya…“. Namun tanggapilah dengan positif, misalnya dengan berkata,”Selain jago nyetir pesawat, baik hati juga nggak?” Atau pertanyaan-pertanyaan lain yang kadang terdengar basa-basi, namun bagi anak-anak hal itu sangatlah serius dan berarti. Bagaimana agar imajinasi anak bisa selalu positif?
Continued

Memahami 4 Sifat Anak Usia Dini dan Cara Mendidiknya

KakZepe.Com – Secara umum anak-anak memiliki kesamaan sifat, yaitu suka bermain dan memiliki rasa penasaran yang tinggi. Dua sifat inilah yang menjadi pemacu mereka untuk belajar dan menemukan hal-hal baru dalam hidupnya. Manusia diciptakan secara unik. Walaupun memiliki kesamaan, namun tentu saja tetap ada perbedaan. Melalui artikel ini saya akan membagi sifat atau karakter anak menjadi empat. Mereka adalah tipe pemimpin, tipe pemalu, tipe pekerja, dan tipe pengikut. Bagaimanakah ciri khas karakter mereka? Bagaimana cara mendidik anak-anak tersebut agar semakin bisa bertumbuh menjadi anak yang memiliki kepribadian yang baik?

1. Tipe pemimpin

Anak-anak dengan tipe pemimpin biasanya sangat suka mengatur anak-anak yang lain. Bila ia berjalan, ia selalu ingin berada di posisi paling depan. Anak dengan tipe ini biasanya tidak mudah dinasihati. Bila ia bekerja di dalam sebuah kelompok, ia akan selalu ingin menjadi seorang pemimpin atau ketua. Ia memiliki ketegasan yang baik dalam mengambil keputusan. Anak-anak dengan tipe ini memang perlu diberi ruang agar ia bisa mengembangkan talentanya sebagai pemimpin. Misalnya dengan menjadikannya sebagai ketua kelas. Namun tentu saja ia juga perlu belajar tentang ketaatan dan kerendahanhati. Maka di dalam sebuah pembelajaran secara berkelompok, kita bisa memilihnya cukup menjadi anggota. Agar kerendahanhatinya bisa terlatih, kita bisa memberikan kesempatan padanya untuk melayani teman-temannya. Misalnya kita minta bantuan padanya untuk membagikan atau mengembalikan lembar kerja yang telah selesai dinilai kepada teman-teman satu kelas. Anak ini biasanya akan sulit untuk minta maaf saat berkonflik pada teman. Pada saat-saat seperti ini, kita bisa mengajaknya menyelesaikan konflik di luar kelas. Karena minta maaf dihadapan teman-temannya adalah hal yang berat baginya. Continued

Pentingnya Mengenal 4 Karakter Dasar Manusia Dalam Mendidik Anak

Florence Litteur, penulis buku terlaris “Personality Plus” menguraikan, ada empat pola watak dasar manusia. Sifat-sifat  tersebut  adalah sanguinis, plegmatis, melankolis, dan koleris.  Mengapa kita perlu  memahami 4 karakter dasar manusia tersebut dalam mendidik anak? Mari kita simak… 🙂

Yang pertama, kata Florence adalah golongan Sanguinis, “Yang Populer”. Mereka ini cenderung ingin populer, ingin disenangi oleh orang lain. Hidupnya penuh dengan bunga warna-warni. Mereka senangsekali bicara tanpa bisa dihentikan. Gejolak emosinya bergelombang dan transparan. Pada suatu saat ia berteriak kegirangan, dan beberapa saat kemudian ia bisa jadi menangis tersedu-sedu. Namun orang-orang sanguinis ini sedikit agak pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir `pendek’, dan hidupnya serba tak beratur. Jika suatu kali anda lihat meja kerja pegawai anda cenderung berantakan, agaknya bisa jadi ia sanguinis. Kemungkinan besar ia pun kurang mampu berdisiplin dengan waktu, sering lupa pada janji apalagi bikin planning/rencana. Namun kalau disuruh melakukan sesuatu, ia akan dengan cepat mengiyakannya dan terlihat sepertinya betul-betul hal itu akan ia lakukan. Dengan semangat sekali ia ingin buktikan bahwa ia bisa dan akan segera melakukannya. Tapi percayalah, beberapa hari kemudian ia tak lakukan apapun juga. Continued

Pola Asuh Yang Membuat Anak Menjadi Kurang Percaya Diri

Seorang anak menari di atas panggung dengan penuh semangat dan percaya diri. Dia menari bersama teman-temannya dengan ceria, sambil melambaikan tangan kepada kepada orang tuanya. Anda mungkin bisa menebak, bagaimana perasaan orang tua memiliki anak yang seperti itu. Penuh semangat, percaya diri, banyak disukai orang, dan punya banyak teman. Wah… Lengkap sudah sifat baik sang anak yang menjadi idaman sebagian besar orang tua.

Namun bagaimana bila kita memiliki anak yang pesims, kurang percaya diri, dan kurang mandiri? Apa-apa harus ditemeni. Melakukan ini tidak bisa, dan harus dilakukan oleh orang tuanya. Sungguh sifat yang sangat bertolak belakang dari sifat anak yang pertama.

Namun tiada asap tanpa api. Bila kita memiliki anak seperti contoh yang kedua, jangan berkecil hati. Kita harus mencegahnya. Namun sebelum mencegahnya tentu kita harus tahu sebabnya. Bila kita sudah tahu sebabnya, tentu akan menjadi lebih mudah mengatasinya ataupun “menyembuhkannya.” Continued